Kamis, 18 Juli 2013

Mengokohkan Kekerabatan melalui Pendeklarasian Kesatuan Turunan Raja Sijorat Paraliman Panjaitan




            Kekerabatan sangat penting dalam pencapaian sistem Dalihan Na Tolu dalam bangsa Batak Toba. Untuk itu Marga Panjaitan, khususnya Turunan Raja Sijorat Paraliman Panjaitan  berusaha menggali nilai-nilai budaya yang mengandung makna dan merupakan sejarah melalui Pembentukan Kesatuan Turunan Raja Sijorat Paraliman Panjaitan dan Boru se Provinsi Sumatera Utara yang disingkat dengan KTRSPPB .

            KTRSPPB terbentuk diawali melalui rapat-rapat marga Panjaitan dan boru diberbagai Kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara Para Pengurus terpilih yaitu Ketua St Ir Pandapotan Panjaitan Sekretaris St Drs Gerellus Panjaitan Bendahara Ronald Parulian Purba dibantu dengan Penasehat dan Kordinator Wilayah. Usai terbentuk maka dilaksanakanlah pertemuan di Bonapasogit dirumah Purn Kol Busisa Panjaitan di Desa Hutanamora  dengan tertib Acara “ Membahas Bona Pasogit “.  Dimana dalam pembahasan tersebut muncullah berbagai hal yang harus dikerjakan oleh pengurus KTRSPPB.seperti melanjutkan Pemugaran Tugu Raja Sijorat Paraliman, Menciptakan/penyusunan buku tentang sejarah perjuangan Raja Sijorat Paraliman Panjaitan I - VIII, Melanjutkan Pengusulan Pemekaran Kecamatan Silaen, Desa Sitorang menjadi sebuah kecamatan yang disebut dengan Kecamatan Sitorang Hutagur-gur (Kec SIGUR), mengusulkan Raja Sijorat Paraliman Panjaitan ke VIII menjadi Pahlawan Nasional , Mendirikan Yayasan. 

            Diantara rencana kerja kegiatan tersebut, sudah ada 2 kegiatan yang sudah rampung yaitu Pemugaran Tugu Raja Sijorat Paraliman yang terletak di Lumban Tor Desa Natolutali dan kegiatan yang kedua adalah Penyusunan buku yg berjudul Raja sijorat Paraliman Panjaitan dohot Pinomparna dan isinya dimuat sejarah perjuangan Raja Sidjorat I – VIII lengkap dengan silsilah. Pada hari Rabu tanggal 17 Juli 2013 Drs Abdul Panjaitan dan St Raja Hasoge Timbul Panjaitan sebagai unsur Pengurus dan Justan Panjaitan,St Mallatang Panjaitan, sebagai unsur Penasehat KTRSPPB telah meninjau Tugu Raja sidjorat Paraliman Panjaitan melihat kerampungan pekerjaan pemugaran tersebut. Dalam budaya bangsa Batak jika suatu kegiatan telah rampung atau selesai dikerjakan maka akan mengadakan sebuah pesta. KTRSPPB pun tidak melupakan budaya tersebut, KTRSPPB akan melaksanakan pesta yang disebut dengan “ Pesta Deklarasi Kesatuan Turunan Raja Sijorat Paraliman Panjaitan” tanggal 20 Agustus 2013 bertempat di Sitorang, Lumban Tor Kec.Silaen Kab.Tobasa, dan diharapkan akan dihadiri Anak Rantau dari berbagai Provinsi yang ada di Negara Kesatuan Repoblik Indonesia bahkan dari berbagail luar negeri, untuk memeriahkan acara Pesta tersebut. Untuk mematangkan acara Pesta itu pengurus KTRSPPB juga  akan melakukan rapat pada tanggal 28 Juli 2013 di desa Sibide Meranti kec Silaen. 


Marilah kita doakan kesuksesan pesta deklerasi tersebut. Horas,..........


Selasa, 16 April 2013

Bona Pasogit


Mendeskripsikan bagaimana proses pewarisan budaya berlangsung, serta apa tujuannya di lakukan  dalam keluarga Batak Toba marga[1] Panjaitan di Pematangsiantar. Proses pewarisan budaya dalam penelitian ini akan berfokus pada Bona Pasogit[2]. Alasan peneliti melakukan penelitian tentang Bona Pasogit karena peneliti melihat adanya kepedulian kembali, keluarga marga Panjaitan terhadap Bona Pasogit-nya melalui ritus-ritus adat seperti pesta Mangokal Holi[3], pendirian tambak,[4] melakukan renovasi ruma-ruma, sopo[5] dan juga berlibur. Di dalamnya ada proses  pengenalan terhadap budaya Batak Toba seperti peningalan-peninggalan nenek moyang keluarga marga Panjaitan kepada generasi muda. Keluarga marga Panjaitan melakukan hal itu setelah mengetahui keberadaan Bona Pasogit, yang telah lama ditinggalkan sejak melakukan migrasi ke Pematangsiantar.

Bona Pasogit marga Panjaitan ini terletak di Sitorang I (satu) Banjar Ganjang Kecamatan Silaen Kabupaten Tobasa Sumatera Utara. Daerah ini merupakan daerah asal marga Panjaitan yang khususnya keturunan Sijorat Paraliman[6]. Menurut Vergouwen tanah marga ini disebut juga bona ni pinasa (tempat asal leluhur) atau bona ni pasogit (daerah leluhur). Bona Pasogit yang merupakan suatu daerah tempat tinggal nenek moyang orang Batak Toba, yang disebut dengan desa. Para warga desa Banjar Ganjang ini diikat oleh hubungan darah dan merupakan turunan dari satu leluhur yaitu Raja Sijorat Paraliman. Dalam satu desa tersebut umumnya bermukim marga Panjaitan, hanya sebagian kecil marga lain berada dalam desa Banjar Ganjang. Dalam desa itu terdapat ruma-ruma adat Batak, Tugu marga dan Sopo, yang mendapatkan kembali perawatan yang dilakukan para perantau yang saat ini telah bermigrasi ke berbagai daerah. Satu diantara Sopo dan Tugu marga tersebut merupakan milik dari keluarga marga Panjaitan keturunan Raja Hasoge Panjaitan[7], keturunan Raja Hasoge Panjaitan ini memiliki beberapa generasi dan satu Sopo, tambak yang telah didirikan baru-baru ini dan peninggalan-peninggalan nenek moyang seperti alat-alat tenun, juga tongkat. Perhatian terhadap Sopo, Tambak, dan alat itu yang berada di Bona Pasogit ini semakin meningkat. Walaupun keturunan Raja Hasoge Panjaitan ini tidak satu pun yang tinggal di Sopo itu, karena memilih tinggal di Kota Pematangsiantar dengan alasan pekerjaan.

Keluarga Raja Hasoge Panjaitan ini merupakan satu diantara suku bangsa Batak Toba yang bermigrasi dari Tapanuli Utara[8] ke kota Pematangsiantar, tepatnya di Kecamatan Siantar Sitalasari. Kota Pematangsiantar merupakan kota yang heterogen yang memiliki suku yang berbagai, yaitu Simalungun, Toba, Mandailing, Jawa, Melayu, Tionghoa[9]. Interaksi antar suku pun terjadi yang memungkinkan difusi kebudayaan[10] juga terjadi. Akibatnya terjadilah kepudaran identitas lama dan menimbulkan identitas baru. Dengan kesadaran Keluarga Panjaitan ini, sehingga mereka berusaha menemukan kembali identitas lama, mengenal kembali bona pasogit.

Pada era globalisasi yang saat ini terjadi, kepedulian terhadap identitas lama itu mulai muncul. Seiring berinteraksinya masyarakat Batak Toba dengan masyarakat lainnya, membuat suatu perubahan identitas. Perubahan identitas yang dimaksud seperti, terjadinya pemakaian bahasa Indonesia di rumah, dan tidak lagi mengerti tentang bahasa Batak Toba, tidak mengenal lagi asal usul marganya, tidak lagi mengenal kekerabatan seperti hal pemanggilan terhadap keluarga telah menggunakan bahasa Indonesia, memanggil “Bapa Uda[11] dengan panggilan “Om”.  Perubahan identitas ini membuat kalangan orang tua Batak Toba berusaha agar generasi muda tetap memahami identitas ke Batakan tersebut. Di kalangan generasi muda dalam hal partuturan[12] sangat banyak yang tidak paham. Bila ditanya dari mana marganya itu berasal kebanyakan tidak mengetahuinya. Orang tua berusaha agar anaknya mengetahui hal tersebut. Berbagai cara dilakukan orang tua agar generasi muda tidak menghilangkan identitas ke Batakannya.

Wakil Bupati Toba Samosir Liberty Pasaribu, juga mengatakan bahwa pembangunan di bona pasogit melalui pendirian makam keluarga (tambak) merupakan kepedulian dalam pelestarian budaya serta mengetahui asal-usul silsilah dan upaya memahami budaya leluhur. Hal tersebut dituturkan saat menghadiri acara peresmian makam keluarga Tri Medya Panjaitan (DPR-RI). Kabag Humas Toba Samosir  Arwanto H. Ginting juga mengatakan budaya ziarah menjadi wisata makam sebagai pelestarian budaya di bona pasogit (http://humastobasa.wordpress.com). Simanjuntak (2010:173) mengatakan nilai budaya tradisional itu masih punya tempat dikalangan orang Batak masa kini, bahkan sebagian masih sangat kuat kedudukannya dan mengharapkan hasil analisa yang lebih dalam tentang budaya Batak Toba.



Hal diatas yang mendasari peneliti untuk meneliti proses pewarisan budaya yang dilakukan dalam keluarga Panjaitan di Pematangsiantar. Karena keluarga ini berusaha mempertahankan identitas ke Batakannya. Selain itu juga peneliti akan melihat seperti apa proses pewarisan budaya itu terjadi di Bona Pasogit-nya.


[1] Marga adalah kelompok kekerabatan yang meliputi orang-orang yang mempunyai kakek bersama, atau percaya bahwa mereka adalah keturunan dari seorang kakek bersama menurut perhitungan garis patrilineal (Ihromi1980:159).
[2] Bona Pasogit merupakan kampung halaman suatu marga suku bangsa Batak Toba, yang mana dari daerah inilah bermula kehidupan suatu keluarga Batak Toba.
[3] Mangongkal Holi artinya menggali kembali tulang-belulang nenek moyang(Sihombing 1986: 90).
[4] Tugu/Tambak biasanya dibangun untuk memperingati seseorang, yaitu nenek moyang satu marga atau satu cabang marga(Simanjuntak 2011:248)
[5] Ruma-ruma serta sopo adalah tempat tinggal orang Batak Toba dan tempat penyimpanan hasil-hasil dan peralatan pertanian
[6] Sijorat Paraliman adalah satu diantar nama nenek moyang marga Panjaitan
[7] Raja Hasoge Panjaitan merupakan nenek moyang peneliti sendiri, tujuh sampai delapan generasi ke atas ego.
[8] Tapanuli utara berada di Sumatera Utara, dan secara umum Panjaitan berasal dari Balige Kabupaten Tapanuli Utara Sumatera Utara. Sehingga berdirilah tugu Marga Panjaitan disana, terletak dekat dengan Rumah Sakit Umum Balige.
[9] Kota Pematangsiantar salah satu kota di Provinsi Sumatera Utarahttp://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Pematangsiantar (diakses tanggal 18 Maret 2013, pukul 08.29 WIB)
[10] Difusi kebudayaa merupakan proses penyebaran unsur kebudayaan dari satu individu ke individu lainnya, dari suatu masyarakat ke masyarakat lainnya, dari satu suku ke suku lainnya.
[11] Bapa Uda merupakan sebutan terhadap adik dari bapak
[12] Partuturan adalah hubungan kekerabatan antara seseorang dengan kerabat lainnya.

Minggu, 27 Januari 2013

Pola Asuh Anak sebagai proses enkulturasi budaya trhadap anak

PERAN KELUARGA BATIH DALAM PEMBENTUKAN
KEPRIBADIAAN DAN IDENTITAS ETNIK

Abstract
The majority of ethnic groups in Indonesia ever came into culture dilemma as the
impact of development and sophistication of technology which always motivate the
society to adopt the new ideas which given by the technology. The new
information and idea were adopted by people from modern nations and states, and
then were become as guidelines for behaviour. The change of life pattern, attitude,
behaviour, and personality of individual, is not released from development which
occur in social and people environment where a person lives. Like Java and
Batak’s change cultures which are not static and became into change slowly. Every
man can have obsession with the change, so every man or group can changes usage
in his life too.
Keywords: social dynamic, culture pattern, cultural diversity
Pendahuluan
Kehidupan masyarakat selalu mengalami perubahan, seperti perubahan sistem sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Perubahan sosial ini dianggap sebagai gejala yang lazim walaupun manusia tetap berusaha mempertahankan seluruh sistem kemasyarakatannya dari pengaruh perubahan geografis, ekonomi, dan kebudayaan. Perubahan sosial yang terjadi di dalam suatu disebabkan oleh perubahan bentuk masyarakat itu sendiri, dari bentuk tradisional ke bentuk masyarakat yang lebih modern.Secara tidak langsung perubahan sosial tersebut dapat pula mempengaruhi nilai-nilai, norma-norma, organisasi sosial, pola tingkah laku individu, struktur masyarakat, pelapisan sosial, dan interaksi sosial di dalam masyarakat. Namun demikian, banyak orang dari berbagai kalangan menganggap bahwa perubahan sosial hanya variasi dari pola hidup manusia yang dipengaruhi oleh perubahan geografis, komposisi dan kepadatan penduduk, kebudayaan materil, ideologi, serta berbagai penemuan baru di dalam masyarakat. Seperti apa yang terjadi pada masyarakat kita saat ini, tampak bahwa perubahan demografis yang terjadi telah berperan sebagai alat pemicu timbulnya diskriminasi rasial dan stratifikasi sosial di antara kelompok etnis pendatang dengan kelompok penduduk asli. Akibatnya kelompok mereka selalu dihadapkan pada perubahan sosial dan kebudayaan. Namun karena adanya proses enkulturasi, kelompok pendatang ini dapat mempertahankan pola tingkah laku, aturan normatif, dan adat kebiasaan yang mereka miliki dalam menghadapi kelompok penduduk asli. Perubahan sosial menimbulkan pergeseran dalam semua aspek kehidupan masyarakat maupun kebudayaan atau social dynamics. Perubahan struktur pemerintahan, ekonomi, dan kepercayaan masyarakat mendorong terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Perjalanan waktu dan perkembangan politik selalu memaksakan masyarakat untuk menerima berbagai perubahan yang disodorkan oleh pihak-pihak yang lebih berkuasa. Pergeseran nilai dan kebudayaan yang terjadi dalam masyarakat merupakan produk dari perubahan struktur pemerintahan, ekonomi dan kepercayaan masyarakat. Tanpa disadari oleh masyarakat, pergeseran sosial dan kebudayaan akan mempengaruhi sistem sosial, interaksi sosial,struktur sosial dan berbagai unsur kelembagaan yang ada di dalam masyarakat. Selanjutnya perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat itu pula dapat menimbulkan dampak negatif sehingga terjadi perubahan
fungsi dari keluarga. Semula keluarga batih mempunyai fungsi tradisional, seperti pengelolaan perekonomian keluarga, pendidikan, dan keagamaan. Namun dalam era globalisasi ini fungsi keluarga digantikan oleh
teknologi elektronik dan komunikasi, baik itu melalui media cetak, layar kaca, dan
sebagainya.Manusia dilahirkan ke dunia ini belum berbudaya, kemudian ia tumbuh, berkembang, dan dibentuk menjadi manusia yang berbudaya melalui proses enkulturasi yang diberikan oleh keluarga batih atau orang tuanya. Salah satu fungsi edukatif keluarga batih adalah menjadi wadah enkulturasi primer di mana setiap anak dididik untuk memahami dan mempedomani kaidah dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Kebutuhan manusia akan pola hidup berkelompok muncul dari ketidakberdayaan manusia untuk hidup sendiri, ia membentuk suatu lingkungan sosial atau kelompok sosial yang akhirnya menimbulkan sikap saling ketergantungan di antara individu. Kepribadian dan identitas suatu masyarakat sebagai kelompok sosial dapat terlihat melalui tingkah laku dari anggotaanggotanya. Dalam hal ini tingkah laku tersebut merupakan serangkaian aktivitas dari orang banyak dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan yang diproyeksikan dalam interaksi sosial di antara mereka berdasarkan simbol-simbol tertentu. Sebab, pengalaman hidup bersama dari sekelompok manusia dapat menumbuhkan kesamaan identitas dan pola tingkah laku yang sama pula. Pengalaman tersebut merupakan suatu realita sosial yang berada dalam dimensi waktu dan mengarah
pada keseragaman tindakan dari semua individu di dalam masyarakat, khususnya
dalam kelompok tertentu. Lazimnya tingkah laku individu atau kelompok dibentuk berdasarkan norma dan kebudayaan masyarakat di mana mereka berada, karena kebudayaan berfungsi sebagai aturan tingkah laku yang disampaikan berdasarkan simbol-simbol tertentu. Masyarakat memanfaatkan kebudayaan sebagai rujukan dari nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, dan pedoman tingkah laku individu. Sebagai pedoman tingkah laku maka kebudayaan berfungsi sebagai alat untuk mengawasi penyimpangan yang dilakukan
oleh anggota suatu kelompok sosial dan mengembalikannya kepada posisi normal. Pembentukan perilaku tersebut dapat dilakukan kepada setiap individu, karena fungsi sistem budaya adalah untuk menata dan
memantapkan tindakan atau tingkah laku individu berdasarkan kebudayaan. Pemantapan tindakan dan tingkah-laku tersebut dapat terlaksana dengan baik melalui proses enkulturasi bahasa, sistem kekerabatan,
kepercayaan, upacara ritual, dan nilai-nilai dalam keluarga maupun masyarakat. Tampak bahwa arah dari enkulturasi cenderung pada aspek pewarisan dan cara pewarisan budaya melalui praktik pengasuhan atau pelatihan terhadap anak. Pola pengasuhan anak dan enkulturasi merupakan faktor penting dalam pembentukan watak individu, sehingga ia dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan
norma budaya yang ada dalam masyarakat. Fungsi lainnya dari enkulturasi adalah sebagai
penggerak perubahan kebudayaan dan sekaligus juga sebagai alat dalam pewarisan
kebudayaan. Proses enkulturasi yang dilakukan pada masing-masing masyarakat atau keluarga
bertujuan untuk mempertahankan kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan. Praktis kebudayaan tersebut berfungsi sebagai konfigurasi dari pola-pola tingkah laku masyarakat berdasarkan adat-istiadat
diteruskan kepada setiap anggota dari masyarakat yang bersangkutan. Kemudian tingkah laku tersebut dilegitimasi menjadi adat-istiadat dari masyarakat, hal mana menjadi fenomena sehari-hari. Pada hakikatnya basis pembentukan kepribadian manusia berada dalam kehidupan keluarga. Keluarga dianggap sebagai
masyarakat kecil yang memiliki kemampuan budaya, pemerintahan, kebijakan khusus, dan dilengkapi dengan mitos. Lebih jauh lagi, keluarga berfungsi sebagai wadah interaksi yang terpola, merupakan organisasi internal dan interaksi di antara individu dan dibentuk sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku. Adanya aturan normatif yang menatahubungan antar-individu dalam keluarga dapat memperkuat fungsi dari keluarga tersebut sebagai wadah enkulturasi. Oleh karena itu proses enkulturasi pertama kali diperoleh individu di dalam keluarga yang diberikan oleh ayah-ibu, kakek-nenek, saudara kandung atau kerabat dekat dari masing-masing keluarga. Pembentukan kepribadian yang dilakukan dalam keluarga selalu dihubungkan
dengan unsur filosofis dan pandangan hidup dari masyarakat atau suku bangsa yang bersangkutan. Berdasarkan nilai filosofis ini pula setiap orang dapat bertingkah laku sesuai dengan pola-pola yang telah ditentukan. Keluarga bagi semua suku bangsa dijadikan sebagai basis pembudayaan setiap individu yang menjadi anggotanya. Dasar dari enkulturasi tersebut adalah norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah, dan adat-istiadat yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Seperti kaidah-kaidah dalam masyarakat Jawa,
tata krama berfungsi untuk mengatur kelakuan manusia, mengatur keselarasan dalam masyarakat, mengatur hubungan formal dengan Tuhan, dan kaidah moral (sikap ‘nrima, sabar, waspada-eling dan prasaja). Sehingga pembudayaan (penjawaan) kepada setiap individu Jawa berdasarkan prinsip rukun, hormat yang dihubungkan dengan kekuasaan adikodrati, sehingga terciptalah jumbuhing kawula-gusti untuk mencapai
kehidupan tatatentrem. Secara universal pemaknaan mengenai keluarga tersebut dapat diartikan sebagai kelompok sosial yang dibentuk oleh kesatuan tempat tinggal, kerjasama ekonomi,reproduksi, dan pendewasaan anak-anak mereka. Hubungan sosial dalam keluarga batih diatur berdasarkan jenis kelamin,
perekonomian, reproduksi, dan pendidikan. Proses pembentukan kepribadian dalam keluarga tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan, karena kebudayaan terdiri dari pola-pola eksplisit maupun implisit tentang perilaku yang diperoleh individu melalui simbol-simbol dan artefak. Kebudayaan dapat mempengaruhi pola
pikir, tindakan, dan perasaan dalam diri setiap individu. Dalam hal ini pikiran tersebut merupakan sebuah lalu lintas dari simbolsimbol bermakna atau sebagai obyek dalam pengalaman individu. Dari berbagai peristiwa
yang dialami, manusia dapat memberikan makna atas peristiwa-peristiwa yang dihayati berdasarkan simbol-simbol bermakna yang dapat dipergunakan sebagai dasar dari tata cara hidup masyarakat. Tata cara hidup suatu masyarakat tidak terlepas dari bentuk atau konstruksi interaksi sosial yang terjadi di antara individu atau kelompok masyarakat melalui penggunaan simbol-simbol,penafsiran, kepastian makna dari suatu
tindakan yang dilakukan oleh individu. Seperti proses pembentukan kepribadian danpengasuhan anak dalam keluarga batih Jawa. Mereka selalu berorientasi pada konsep konsep kejawen. Proses penjawaan bertujuan
agar bentuk tingkah laku individu dapat menggambarkan bentuk kebudayaan dan kepribadian Jawa. Kaidah pokok yang diajarkan dalam keluarga Jawa adalah mengenai sikap rukun (yang menumbuhkan sikap tenteram dan tidak merugikan orang lain), sikap menghormati keselarasan (dapat menghormati orang lain dan bersedia untuk mengabdi kepada masyarakat). Karena ajaran kejawen tidak terlepas dari konsep sangkan
paraning dumadi (awal dan tujuan), jumbuhing kawula gusti atau penyelarasan tingkah laku yang dapat menunjukkan sikap rukun dan urmat. Hal ini dapat memperlihatkan bagamana kehidupan masyarakat dibentuk berdasarkan nilai-nilai kesopanan dan tingkah laku individu sesuai dengan adat-istiadat dari masyarakatnya.Pada hakikatnya pembentukan identitas etnis berawal dari dalam keluarga, karena dalam keluarga proses identifikasi diri dapat berlangsung secara kontinu sejak masa kanakkanak individu. Identitas kesukuan, seperti marga-marga yang ada di Karo dapat menentukan proses pembentukan kepribadian
anak di dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Kepemilikan identitas kesukuan tersebut dapat menuntun setiap anak ke dalam kancah enkulturasi, sehingga setiap anak dapat mempelajari bahasa etnisnya dan memakainya sebagai alat komunikasi dalam berbagai interaksi sosial di tengah-tengah keluarga maupun masyarakat mereka.
By: Jonni Purba

Kamis, 26 Juli 2012

Mempertahankan Indentitas dengan membangun Tugu-tugu Hidup

Diawali dengan keberangkatan dengan Xenia all new, menuju Balige Kab.Tobasa. Menempuh perjalanan selama hampir 4 jam dengan lelahnya sampai di Monumen Opung D.I Panjaitan.Melihat orang-orang telah ramai duduk melingkar disuatu tempat yang beratapkan tenda telah didekorasi sedemikan menarik, dan tergantung spanduk dengan tulisan Selamat datang diacara Pesta Syukuran Renovasi Tugu Raja Panjaitan.

Ternyata mereka sedang melaksanakan Geladi bersih sebelum besoknya hari Pesta Syukuran Tugu Raja Panjaitan tersebut. Dalam rapat tersebut mendiskusikan tentang tugu-tugu hidup. Dimana Tugu Raja Panjaitan ini diRenovasi dengan tujuan memunculkan fungsi tugu tesebut menjadi tugu-tugu hidup yang mana dengan maksud mendirikan Yayasan Pendidikan Panjaitan dan mendirikan Koperasi-koperasi unit Desa dengan latarbelakang Panjaitan. Tetapi dengan singkatnya waktu dan rasa lelah yang telah menghampiri tubuh masing-masing setiap panitian panjaitan makan rapat tersebut dipending dan belum mendapat tujuan pasti kemudian menyatakan bahwa Upacara Syukuran Renovasi Tugu Panjaitan diselenggarakan pada pukul 07.30 esok hari di Tugu Raja Panjaitan yang telah direnovasi. Dan satu persatu orang-orang bubar dari Lokasi monumen DI panjaitan tersebut dan beristirahat ketempat penginapan masing-masing.

Esok harinya tepatnya pukul 07.17 tanggal 25 Juli hari dimana Acara syukuran ini diselenggarakan tepatnya St Raja Timbul Hasoge Panjaitan yang beragenda nantinya dalam acara ibadah, telah sampai di Tugu dan melihat telah banyak orang mengerumuni Tugu Panjaitan tersebut.Dan acara ini dihadiri oleh DR. Hinca Panjaitan selaku Penasehat PSSI.


Setelah melakukan acara ditugu Raja Panjaitan Dengan nama cara Patuat on tua ni Gondang. Para Panjaitan melakukan prosesi jalan menuju Monumen D.I Panjaitan yang merupakan Pahlawan Bangsa Indonesia. dan Setelah itu acara ibadah pun di mulai dilokasi Monumen tersebut dan di meriahkan oleh artis' ibukota. Pemberian ulos kepada setiap Panitia yang ada dan panjaitan, boru, bere/ibebere yang dihadiri RE Nainggolan yang merupakan boru nya Panjaitan.

Diharapkan tugu-tugu hidup yang menjadi tujuan utama Panjaitan ini akan tewujud tanpa ada curiga mencurigai diantara Panjaitan yang ada.

Rabu, 25 Juli 2012

Bibelvrouw HKBP

Terkuaknya kasus pelecehan seksual di sekolah Bibelvrouw HKBP dan Perjuangan keras para korban dalam mencari keadilan menjadi terang dan jelas, sehingga muncul harapan baru agar tidak ada lagi para Pendeta yang berperilaku amoral, menutup-nutupi kejadian ini, bahkan memutar balikkan fakta khususnya kepada Jemaat HKBP.

Buku ini berisikan bagaimana kisah pembongkaran kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh seorang Pendeta HKBP yang seharusnya menjadi panutan jemaat HKBP. yang bertempat di Sekolah Bibelvrouw HKBP di Laguboti, Kab.Tobasa Sumatera Utara Indonesia.

Buku ini bukan fitnah ... melainkan tulisan etnografi yang deskriptif tentang kehidupan 19 mahasiswa Sekolah Bibelvrouw dan seorang dosen yang melakukan kejahatan terhadap mereka. yang sekarang telah mendekap ditahanan.

TP.Jose Silitonga, SH MA.
Prof.Dr.Bungaran Antonius Simanjuntak

Senin, 23 Juli 2012

BPP HKBP Pematangsiantar harus mengerti kebutuhan konsumen

Seiring dengan perkembangan teknologi yang membutuhkan Sumber Daya Manusia tinggi, bagaimana kita harus membangun SDM yang berguna bagi Nusa dan Bangsa.......

BPP HKBP mulai membuat sekolah-sekolah unggulan untuk membangun SDM Jemaat HKBP secara terkhusus, rakyak Indonesia secara khususnya. BPP HKBP yang singkatan dari BADAN PENYELENGGARA PENDIDIKAN HKBP. Dan di kota Pematangsiantar telah dibuka Kelas unggulan yang mana terletak di SD Latihan YP-HKBP Jln. Gereja No.32 Pematangsiantar Sumatera Utara Dengan Visi Misi yang indah.

Mendidik Dalam Pelayanan
Melayani Dalam Pendidikan

 Tetapi dengan pengalaman saya yang datang ke Sekolah tersebut dan berbincang-bincang dengan orang tua siswa, muncul sebuah opini Kelas Unggulan tersebut adalah Sekolah yang diselenggarakan Luhut Panjaitan, bekerja sama dengan HKBP, itu hal yang sangat menarik. Mengapa Orangtua mendaftarkan siswanya tanpa mengetahui pasti itu sekolah diselenggarakan oleh siapa.....

Pertanyaan itu muncul dikarenakan salah satu orang tua siswa mengetahui bahwa SD Latihan YP-HKBP khususnya Kepala Sekolah tidak sepaham dengan Kelas Unggulan... dan juga orangtua siswa mendaftarkan anak-anaknya ke Kelas Unggulan dengan Harapan Tamat dari SD Kelas Unggulan tersebut HKBP juga menyediakan Kelas Unggulan di SMA. Jangan hanya SD aja bisa ada kelas unggulan yang berstandart Internasional.

Mengingat Sekolah-sekolah HKBP yang ada di Pematangsiantar ini termasuk sekolah yang belim mendapat kestandartan Internasional. Diharapakan dapat bersaing nantinya

Minggu, 22 Juli 2012

MAKNA DAN FUNGSI PENDIRIAN TUGU LELUHUR PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KECAMATAN BALIGE KABUPATEN TOBA SAMOSIR (STUDI KASUS TUGU MARGA PANJAITAN)


UNIMED » Master Theses » Antropologi Sosial - S2
Posted by admin at 21/05/2012 10:02:18  •  27 Views



MEANING AND FUNCTION OF ESTABLISHMENT OF COMMUNITY BATAK monument ANCESTORS IN SUB Balige DISTRICT TOBA SAMOSIR (Case Study Tugu Panjaitan Marga)

Created by :
Panjaitan, Rohrita ( NIM. : 082188530018 )



SubjectCOMMUNITY
BATAK (INDONESIAN PEOPLE)
Alt. Subject Komunitas
Batak
KeywordTugu Marga
Batak Toba
Balige
Leluhur
Budaya

[ Description ]
Penelitian ini mengungkapkan bagaimana hubungan pendirian tugu dengan sistem kepercayaan tradisional orang Batak Toba yang masih percaya akan eksistenssi roh nenek moyang mereka. Aktualisasi kepercayaan itu terwujud dalam pembangunan tugu leluhur yang dianggap merupakan perwujudan penghormatan dari keturunan marga yang mendirikannya. Untuk mengungkapkan data tersebut, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kulaitatif. Data di lapangan diperoleh melalui teknik observasi partisipasi, wawancara, dan studi literatur. Tujuan penelitian ini ingin mengungkapkan latar belakang pendirian tugu pada kelompok-kelompok marga di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir yang merepresentasikan fungsi dan makna pendirian tugu marga-marga yang ada di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir selain itu menguraikan pengorganisasian dan pelaksanaan kasus pendirian tugu marga Panjaitan di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir dan menganalisa konsepsi pendirian tugu pada masyarakat Batak Toba. Dan penelitian ini diperoleh hasil bahwa kelompok etnik Batak Toba mendirikan tugu pada awalnya berdasarkan kosepsi kepercayaan tradisonal yang mempercayai adanya eksistensi roh leluhur mereka dalam kehidupan masyarakat. Pemujaan roh nenek moyang itu termanifestasikan dalam pembangunan tugu. Secara simbolis tugu tersebut mengekspresikan suatu pemujaan terhadap arwah nenek moyang yang muncul akan adanya pengharapan akan ditambahnya hasil¬hasil pertanian dalam kegiatan ekonomi mereka dan keberkahan para leleuhur dalam memperoleh keturunan dan juga ternak. Semua menurut mereka akan terwujud jika ada berkat dari para leluhur mereka. Tugu yang dibangun oleh setiap marga dari kelompok Batak Toba sebenamya menggambarkan bahwa dalam setiap pendirian tugu tersebut mereka berusaha mencari dirinya sendiri, identitasnva. dan dengan demikian juga berlaku untuk nenek moyangnya. Selain itu juga memiliki fungsi dan makna yang mencerminkan tingginya harapan orang Batak akan berkat yang hendak dilimpahkan oleh roh bapa leluhurnya.