PERAN KELUARGA BATIH DALAM PEMBENTUKAN
KEPRIBADIAAN DAN IDENTITAS ETNIK
Abstract
The majority of ethnic groups in Indonesia ever came into culture dilemma as the
impact of development and sophistication of technology which always motivate the
society to adopt the new ideas which given by the technology. The new
information and idea were adopted by people from modern nations and states, and
then were become as guidelines for behaviour. The change of life pattern, attitude,
behaviour, and personality of individual, is not released from development which
occur in social and people environment where a person lives. Like Java and
Batak’s change cultures which are not static and became into change slowly. Every
man can have obsession with the change, so every man or group can changes usage
in his life too.
Keywords: social dynamic, culture pattern, cultural diversity
Pendahuluan
Kehidupan masyarakat selalu mengalami perubahan, seperti perubahan sistem sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Perubahan sosial ini dianggap sebagai gejala yang lazim walaupun manusia tetap berusaha mempertahankan seluruh sistem kemasyarakatannya dari pengaruh perubahan geografis, ekonomi, dan kebudayaan. Perubahan sosial yang terjadi di dalam suatu disebabkan oleh perubahan bentuk masyarakat itu sendiri, dari bentuk tradisional ke bentuk masyarakat yang lebih modern.Secara tidak langsung perubahan sosial tersebut dapat pula mempengaruhi nilai-nilai, norma-norma, organisasi sosial, pola tingkah laku individu, struktur masyarakat, pelapisan sosial, dan interaksi sosial di dalam masyarakat. Namun demikian, banyak orang dari berbagai kalangan menganggap bahwa perubahan sosial hanya variasi dari pola hidup manusia yang dipengaruhi oleh perubahan geografis, komposisi dan kepadatan penduduk, kebudayaan materil, ideologi, serta berbagai penemuan baru di dalam masyarakat. Seperti apa yang terjadi pada masyarakat kita saat ini, tampak bahwa perubahan demografis yang terjadi telah berperan sebagai alat pemicu timbulnya diskriminasi rasial dan stratifikasi sosial di antara kelompok etnis pendatang dengan kelompok penduduk asli. Akibatnya kelompok mereka selalu dihadapkan pada perubahan sosial dan kebudayaan. Namun karena adanya proses enkulturasi, kelompok pendatang ini dapat mempertahankan pola tingkah laku, aturan normatif, dan adat kebiasaan yang mereka miliki dalam menghadapi kelompok penduduk asli. Perubahan sosial menimbulkan pergeseran dalam semua aspek kehidupan masyarakat maupun kebudayaan atau social dynamics. Perubahan struktur pemerintahan, ekonomi, dan kepercayaan masyarakat mendorong terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Perjalanan waktu dan perkembangan politik selalu memaksakan masyarakat untuk menerima berbagai perubahan yang disodorkan oleh pihak-pihak yang lebih berkuasa. Pergeseran nilai dan kebudayaan yang terjadi dalam masyarakat merupakan produk dari perubahan struktur pemerintahan, ekonomi dan kepercayaan masyarakat. Tanpa disadari oleh masyarakat, pergeseran sosial dan kebudayaan akan mempengaruhi sistem sosial, interaksi sosial,struktur sosial dan berbagai unsur kelembagaan yang ada di dalam masyarakat. Selanjutnya perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat itu pula dapat menimbulkan dampak negatif sehingga terjadi perubahan
fungsi dari keluarga. Semula keluarga batih mempunyai fungsi tradisional, seperti pengelolaan perekonomian keluarga, pendidikan, dan keagamaan. Namun dalam era globalisasi ini fungsi keluarga digantikan oleh
teknologi elektronik dan komunikasi, baik itu melalui media cetak, layar kaca, dan
sebagainya.Manusia dilahirkan ke dunia ini belum berbudaya, kemudian ia tumbuh, berkembang, dan dibentuk menjadi manusia yang berbudaya melalui proses enkulturasi yang diberikan oleh keluarga batih atau orang tuanya. Salah satu fungsi edukatif keluarga batih adalah menjadi wadah enkulturasi primer di mana setiap anak dididik untuk memahami dan mempedomani kaidah dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Kebutuhan manusia akan pola hidup berkelompok muncul dari ketidakberdayaan manusia untuk hidup sendiri, ia membentuk suatu lingkungan sosial atau kelompok sosial yang akhirnya menimbulkan sikap saling ketergantungan di antara individu. Kepribadian dan identitas suatu masyarakat sebagai kelompok sosial dapat terlihat melalui tingkah laku dari anggotaanggotanya. Dalam hal ini tingkah laku tersebut merupakan serangkaian aktivitas dari orang banyak dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan yang diproyeksikan dalam interaksi sosial di antara mereka berdasarkan simbol-simbol tertentu. Sebab, pengalaman hidup bersama dari sekelompok manusia dapat menumbuhkan kesamaan identitas dan pola tingkah laku yang sama pula. Pengalaman tersebut merupakan suatu realita sosial yang berada dalam dimensi waktu dan mengarah
pada keseragaman tindakan dari semua individu di dalam masyarakat, khususnya
dalam kelompok tertentu. Lazimnya tingkah laku individu atau kelompok dibentuk berdasarkan norma dan kebudayaan masyarakat di mana mereka berada, karena kebudayaan berfungsi sebagai aturan tingkah laku yang disampaikan berdasarkan simbol-simbol tertentu. Masyarakat memanfaatkan kebudayaan sebagai rujukan dari nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, dan pedoman tingkah laku individu. Sebagai pedoman tingkah laku maka kebudayaan berfungsi sebagai alat untuk mengawasi penyimpangan yang dilakukan
oleh anggota suatu kelompok sosial dan mengembalikannya kepada posisi normal. Pembentukan perilaku tersebut dapat dilakukan kepada setiap individu, karena fungsi sistem budaya adalah untuk menata dan
memantapkan tindakan atau tingkah laku individu berdasarkan kebudayaan. Pemantapan tindakan dan tingkah-laku tersebut dapat terlaksana dengan baik melalui proses enkulturasi bahasa, sistem kekerabatan,
kepercayaan, upacara ritual, dan nilai-nilai dalam keluarga maupun masyarakat. Tampak bahwa arah dari enkulturasi cenderung pada aspek pewarisan dan cara pewarisan budaya melalui praktik pengasuhan atau pelatihan terhadap anak. Pola pengasuhan anak dan enkulturasi merupakan faktor penting dalam pembentukan watak individu, sehingga ia dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan
norma budaya yang ada dalam masyarakat. Fungsi lainnya dari enkulturasi adalah sebagai
penggerak perubahan kebudayaan dan sekaligus juga sebagai alat dalam pewarisan
kebudayaan. Proses enkulturasi yang dilakukan pada masing-masing masyarakat atau keluarga
bertujuan untuk mempertahankan kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan. Praktis kebudayaan tersebut berfungsi sebagai konfigurasi dari pola-pola tingkah laku masyarakat berdasarkan adat-istiadat
diteruskan kepada setiap anggota dari masyarakat yang bersangkutan. Kemudian tingkah laku tersebut dilegitimasi menjadi adat-istiadat dari masyarakat, hal mana menjadi fenomena sehari-hari. Pada hakikatnya basis pembentukan kepribadian manusia berada dalam kehidupan keluarga. Keluarga dianggap sebagai
masyarakat kecil yang memiliki kemampuan budaya, pemerintahan, kebijakan khusus, dan dilengkapi dengan mitos. Lebih jauh lagi, keluarga berfungsi sebagai wadah interaksi yang terpola, merupakan organisasi internal dan interaksi di antara individu dan dibentuk sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku. Adanya aturan normatif yang menatahubungan antar-individu dalam keluarga dapat memperkuat fungsi dari keluarga tersebut sebagai wadah enkulturasi. Oleh karena itu proses enkulturasi pertama kali diperoleh individu di dalam keluarga yang diberikan oleh ayah-ibu, kakek-nenek, saudara kandung atau kerabat dekat dari masing-masing keluarga. Pembentukan kepribadian yang dilakukan dalam keluarga selalu dihubungkan
dengan unsur filosofis dan pandangan hidup dari masyarakat atau suku bangsa yang bersangkutan. Berdasarkan nilai filosofis ini pula setiap orang dapat bertingkah laku sesuai dengan pola-pola yang telah ditentukan. Keluarga bagi semua suku bangsa dijadikan sebagai basis pembudayaan setiap individu yang menjadi anggotanya. Dasar dari enkulturasi tersebut adalah norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah, dan adat-istiadat yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Seperti kaidah-kaidah dalam masyarakat Jawa,
tata krama berfungsi untuk mengatur kelakuan manusia, mengatur keselarasan dalam masyarakat, mengatur hubungan formal dengan Tuhan, dan kaidah moral (sikap ‘nrima, sabar, waspada-eling dan prasaja). Sehingga pembudayaan (penjawaan) kepada setiap individu Jawa berdasarkan prinsip rukun, hormat yang dihubungkan dengan kekuasaan adikodrati, sehingga terciptalah jumbuhing kawula-gusti untuk mencapai
kehidupan tatatentrem. Secara universal pemaknaan mengenai keluarga tersebut dapat diartikan sebagai kelompok sosial yang dibentuk oleh kesatuan tempat tinggal, kerjasama ekonomi,reproduksi, dan pendewasaan anak-anak mereka. Hubungan sosial dalam keluarga batih diatur berdasarkan jenis kelamin,
perekonomian, reproduksi, dan pendidikan. Proses pembentukan kepribadian dalam keluarga tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan, karena kebudayaan terdiri dari pola-pola eksplisit maupun implisit tentang perilaku yang diperoleh individu melalui simbol-simbol dan artefak. Kebudayaan dapat mempengaruhi pola
pikir, tindakan, dan perasaan dalam diri setiap individu. Dalam hal ini pikiran tersebut merupakan sebuah lalu lintas dari simbolsimbol bermakna atau sebagai obyek dalam pengalaman individu. Dari berbagai peristiwa
yang dialami, manusia dapat memberikan makna atas peristiwa-peristiwa yang dihayati berdasarkan simbol-simbol bermakna yang dapat dipergunakan sebagai dasar dari tata cara hidup masyarakat. Tata cara hidup suatu masyarakat tidak terlepas dari bentuk atau konstruksi interaksi sosial yang terjadi di antara individu atau kelompok masyarakat melalui penggunaan simbol-simbol,penafsiran, kepastian makna dari suatu
tindakan yang dilakukan oleh individu. Seperti proses pembentukan kepribadian danpengasuhan anak dalam keluarga batih Jawa. Mereka selalu berorientasi pada konsep konsep kejawen. Proses penjawaan bertujuan
agar bentuk tingkah laku individu dapat menggambarkan bentuk kebudayaan dan kepribadian Jawa. Kaidah pokok yang diajarkan dalam keluarga Jawa adalah mengenai sikap rukun (yang menumbuhkan sikap tenteram dan tidak merugikan orang lain), sikap menghormati keselarasan (dapat menghormati orang lain dan bersedia untuk mengabdi kepada masyarakat). Karena ajaran kejawen tidak terlepas dari konsep sangkan
paraning dumadi (awal dan tujuan), jumbuhing kawula gusti atau penyelarasan tingkah laku yang dapat menunjukkan sikap rukun dan urmat. Hal ini dapat memperlihatkan bagamana kehidupan masyarakat dibentuk berdasarkan nilai-nilai kesopanan dan tingkah laku individu sesuai dengan adat-istiadat dari masyarakatnya.Pada hakikatnya pembentukan identitas etnis berawal dari dalam keluarga, karena dalam keluarga proses identifikasi diri dapat berlangsung secara kontinu sejak masa kanakkanak individu. Identitas kesukuan, seperti marga-marga yang ada di Karo dapat menentukan proses pembentukan kepribadian
anak di dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Kepemilikan identitas kesukuan tersebut dapat menuntun setiap anak ke dalam kancah enkulturasi, sehingga setiap anak dapat mempelajari bahasa etnisnya dan memakainya sebagai alat komunikasi dalam berbagai interaksi sosial di tengah-tengah keluarga maupun masyarakat mereka.
By: Jonni Purba
Minggu, 27 Januari 2013
Kamis, 26 Juli 2012
Mempertahankan Indentitas dengan membangun Tugu-tugu Hidup
Diawali dengan keberangkatan dengan Xenia all new, menuju Balige Kab.Tobasa. Menempuh perjalanan selama hampir 4 jam dengan lelahnya sampai di Monumen Opung D.I Panjaitan.Melihat orang-orang telah ramai duduk melingkar disuatu tempat yang beratapkan tenda telah didekorasi sedemikan menarik, dan tergantung spanduk dengan tulisan Selamat datang diacara Pesta Syukuran Renovasi Tugu Raja Panjaitan.
Ternyata mereka sedang melaksanakan Geladi bersih sebelum besoknya hari Pesta Syukuran Tugu Raja Panjaitan tersebut. Dalam rapat tersebut mendiskusikan tentang tugu-tugu hidup. Dimana Tugu Raja Panjaitan ini diRenovasi dengan tujuan memunculkan fungsi tugu tesebut menjadi tugu-tugu hidup yang mana dengan maksud mendirikan Yayasan Pendidikan Panjaitan dan mendirikan Koperasi-koperasi unit Desa dengan latarbelakang Panjaitan. Tetapi dengan singkatnya waktu dan rasa lelah yang telah menghampiri tubuh masing-masing setiap panitian panjaitan makan rapat tersebut dipending dan belum mendapat tujuan pasti kemudian menyatakan bahwa Upacara Syukuran Renovasi Tugu Panjaitan diselenggarakan pada pukul 07.30 esok hari di Tugu Raja Panjaitan yang telah direnovasi. Dan satu persatu orang-orang bubar dari Lokasi monumen DI panjaitan tersebut dan beristirahat ketempat penginapan masing-masing.
Esok harinya tepatnya pukul 07.17 tanggal 25 Juli hari dimana Acara syukuran ini diselenggarakan tepatnya St Raja Timbul Hasoge Panjaitan yang beragenda nantinya dalam acara ibadah, telah sampai di Tugu dan melihat telah banyak orang mengerumuni Tugu Panjaitan tersebut.Dan acara ini dihadiri oleh DR. Hinca Panjaitan selaku Penasehat PSSI.
Setelah melakukan acara ditugu Raja Panjaitan Dengan nama cara Patuat on tua ni Gondang. Para Panjaitan melakukan prosesi jalan menuju Monumen D.I Panjaitan yang merupakan Pahlawan Bangsa Indonesia. dan Setelah itu acara ibadah pun di mulai dilokasi Monumen tersebut dan di meriahkan oleh artis' ibukota. Pemberian ulos kepada setiap Panitia yang ada dan panjaitan, boru, bere/ibebere yang dihadiri RE Nainggolan yang merupakan boru nya Panjaitan.
Diharapkan tugu-tugu hidup yang menjadi tujuan utama Panjaitan ini akan tewujud tanpa ada curiga mencurigai diantara Panjaitan yang ada.
Esok harinya tepatnya pukul 07.17 tanggal 25 Juli hari dimana Acara syukuran ini diselenggarakan tepatnya St Raja Timbul Hasoge Panjaitan yang beragenda nantinya dalam acara ibadah, telah sampai di Tugu dan melihat telah banyak orang mengerumuni Tugu Panjaitan tersebut.Dan acara ini dihadiri oleh DR. Hinca Panjaitan selaku Penasehat PSSI.
Diharapkan tugu-tugu hidup yang menjadi tujuan utama Panjaitan ini akan tewujud tanpa ada curiga mencurigai diantara Panjaitan yang ada.
Rabu, 25 Juli 2012
Bibelvrouw HKBP
Terkuaknya kasus pelecehan seksual di sekolah Bibelvrouw HKBP dan Perjuangan keras para korban dalam mencari keadilan menjadi terang dan jelas, sehingga muncul harapan baru agar tidak ada lagi para Pendeta yang berperilaku amoral, menutup-nutupi kejadian ini, bahkan memutar balikkan fakta khususnya kepada Jemaat HKBP.
Buku ini berisikan bagaimana kisah pembongkaran kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh seorang Pendeta HKBP yang seharusnya menjadi panutan jemaat HKBP. yang bertempat di Sekolah Bibelvrouw HKBP di Laguboti, Kab.Tobasa Sumatera Utara Indonesia.
Buku ini bukan fitnah ... melainkan tulisan etnografi yang deskriptif tentang kehidupan 19 mahasiswa Sekolah Bibelvrouw dan seorang dosen yang melakukan kejahatan terhadap mereka. yang sekarang telah mendekap ditahanan.
TP.Jose Silitonga, SH MA.
Prof.Dr.Bungaran Antonius Simanjuntak
Buku ini berisikan bagaimana kisah pembongkaran kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh seorang Pendeta HKBP yang seharusnya menjadi panutan jemaat HKBP. yang bertempat di Sekolah Bibelvrouw HKBP di Laguboti, Kab.Tobasa Sumatera Utara Indonesia.
Buku ini bukan fitnah ... melainkan tulisan etnografi yang deskriptif tentang kehidupan 19 mahasiswa Sekolah Bibelvrouw dan seorang dosen yang melakukan kejahatan terhadap mereka. yang sekarang telah mendekap ditahanan.
TP.Jose Silitonga, SH MA.
Prof.Dr.Bungaran Antonius Simanjuntak
Senin, 23 Juli 2012
BPP HKBP Pematangsiantar harus mengerti kebutuhan konsumen
Seiring dengan perkembangan teknologi yang membutuhkan Sumber Daya Manusia tinggi, bagaimana kita harus membangun SDM yang berguna bagi Nusa dan Bangsa.......
BPP HKBP mulai membuat sekolah-sekolah unggulan untuk membangun SDM Jemaat HKBP secara terkhusus, rakyak Indonesia secara khususnya. BPP HKBP yang singkatan dari BADAN PENYELENGGARA PENDIDIKAN HKBP. Dan di kota Pematangsiantar telah dibuka Kelas unggulan yang mana terletak di SD Latihan YP-HKBP Jln. Gereja No.32 Pematangsiantar Sumatera Utara Dengan Visi Misi yang indah.
Tetapi dengan pengalaman saya yang datang ke Sekolah tersebut dan berbincang-bincang dengan orang tua siswa, muncul sebuah opini Kelas Unggulan tersebut adalah Sekolah yang diselenggarakan Luhut Panjaitan, bekerja sama dengan HKBP, itu hal yang sangat menarik. Mengapa Orangtua mendaftarkan siswanya tanpa mengetahui pasti itu sekolah diselenggarakan oleh siapa.....
Pertanyaan itu muncul dikarenakan salah satu orang tua siswa mengetahui bahwa SD Latihan YP-HKBP khususnya Kepala Sekolah tidak sepaham dengan Kelas Unggulan... dan juga orangtua siswa mendaftarkan anak-anaknya ke Kelas Unggulan dengan Harapan Tamat dari SD Kelas Unggulan tersebut HKBP juga menyediakan Kelas Unggulan di SMA. Jangan hanya SD aja bisa ada kelas unggulan yang berstandart Internasional.
Mengingat Sekolah-sekolah HKBP yang ada di Pematangsiantar ini termasuk sekolah yang belim mendapat kestandartan Internasional. Diharapakan dapat bersaing nantinya
BPP HKBP mulai membuat sekolah-sekolah unggulan untuk membangun SDM Jemaat HKBP secara terkhusus, rakyak Indonesia secara khususnya. BPP HKBP yang singkatan dari BADAN PENYELENGGARA PENDIDIKAN HKBP. Dan di kota Pematangsiantar telah dibuka Kelas unggulan yang mana terletak di SD Latihan YP-HKBP Jln. Gereja No.32 Pematangsiantar Sumatera Utara Dengan Visi Misi yang indah.
Mendidik Dalam Pelayanan
Melayani Dalam Pendidikan
Pertanyaan itu muncul dikarenakan salah satu orang tua siswa mengetahui bahwa SD Latihan YP-HKBP khususnya Kepala Sekolah tidak sepaham dengan Kelas Unggulan... dan juga orangtua siswa mendaftarkan anak-anaknya ke Kelas Unggulan dengan Harapan Tamat dari SD Kelas Unggulan tersebut HKBP juga menyediakan Kelas Unggulan di SMA. Jangan hanya SD aja bisa ada kelas unggulan yang berstandart Internasional.
Mengingat Sekolah-sekolah HKBP yang ada di Pematangsiantar ini termasuk sekolah yang belim mendapat kestandartan Internasional. Diharapakan dapat bersaing nantinya
Minggu, 22 Juli 2012
MAKNA DAN FUNGSI PENDIRIAN TUGU LELUHUR PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KECAMATAN BALIGE KABUPATEN TOBA SAMOSIR (STUDI KASUS TUGU MARGA PANJAITAN)
UNIMED » Master Theses » Antropologi Sosial - S2
Posted by admin at 21/05/2012 10:02:18 • 27 Views
MEANING AND FUNCTION OF ESTABLISHMENT OF COMMUNITY BATAK monument ANCESTORS IN SUB Balige DISTRICT TOBA SAMOSIR (Case Study Tugu Panjaitan Marga)
Created by :
Panjaitan, Rohrita ( NIM. : 082188530018 )
| Subject: | COMMUNITY BATAK (INDONESIAN PEOPLE) |
| Alt. Subject : | Komunitas Batak |
| Keyword: | Tugu Marga Batak Toba Balige Leluhur Budaya |
[ Description ]
Penelitian
ini mengungkapkan bagaimana hubungan pendirian tugu dengan sistem
kepercayaan tradisional orang Batak Toba yang masih percaya akan
eksistenssi roh nenek moyang mereka. Aktualisasi kepercayaan itu
terwujud dalam pembangunan tugu leluhur yang dianggap merupakan
perwujudan penghormatan dari keturunan marga yang mendirikannya.
Untuk mengungkapkan data tersebut, maka dalam penelitian ini penulis
menggunakan jenis penelitian kulaitatif. Data di lapangan diperoleh
melalui teknik observasi partisipasi, wawancara, dan studi literatur.
Tujuan penelitian ini ingin mengungkapkan latar belakang pendirian tugu
pada kelompok-kelompok marga di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir
yang merepresentasikan fungsi dan makna pendirian tugu marga-marga yang
ada di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir selain itu menguraikan
pengorganisasian dan pelaksanaan kasus pendirian tugu marga Panjaitan di
Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir dan menganalisa konsepsi
pendirian tugu pada masyarakat Batak Toba.
Dan penelitian ini diperoleh hasil bahwa kelompok etnik Batak Toba
mendirikan tugu pada awalnya berdasarkan kosepsi kepercayaan tradisonal
yang mempercayai adanya eksistensi roh leluhur mereka dalam kehidupan
masyarakat. Pemujaan roh nenek moyang itu termanifestasikan dalam
pembangunan tugu. Secara simbolis tugu tersebut mengekspresikan suatu
pemujaan terhadap arwah nenek moyang yang muncul akan adanya pengharapan
akan ditambahnya hasil¬hasil pertanian dalam kegiatan ekonomi mereka
dan keberkahan para leleuhur dalam memperoleh keturunan dan juga ternak.
Semua menurut mereka akan terwujud jika ada berkat dari para leluhur
mereka. Tugu yang dibangun oleh setiap marga dari kelompok Batak Toba
sebenamya menggambarkan bahwa dalam setiap pendirian tugu tersebut
mereka berusaha mencari dirinya sendiri, identitasnva. dan dengan
demikian juga berlaku untuk nenek moyangnya. Selain itu juga memiliki
fungsi dan makna yang mencerminkan tingginya harapan orang Batak akan
berkat yang hendak dilimpahkan oleh roh bapa leluhurnya.
Pandangan terhadap Upacara Adat Batak (Pesta Tugu Marga Panjaitan)
Tugu Raja Panjaitan yang akan di selenggarakan pada tgl 25 Juli 2012 ini di Onan Raja Balige Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, Indonesia. Semua marga panjaitan diharapkan akan menghadiri acara ini. Pesta tugu ini dilatarbelakangi dengan adanya renovasi terhadap Tugu Raja Panjaitan.
Apa tujuan Didirikan Tugu??
Pembangunan tugu-tugu marga merupakan cara baru yang dilakukan oleh orang Batak didalam mengekpresikan keyakinan hasipelebeguon yang belum terkikis oleh gereja dari dalam hati orang batak. Hal itu menunjukkan bahwa roh-roh leluhur, tetap berupaya agar orang batak tetap melakukan penghormatan dan pemujaan kepadanya. Roh ini memberikan gagasan baru didalam gati orang-orang tertentu yang berpengaruh didalam masyarakat, untuk membuat sesuatu bentuk pemujaan baru kepadanya, yaitu dengan membangun tugu-tugu marga.(Silalahi James Henry 2000 Pandangan Injil Terhadap Upacara Adat Batak).
Apa itu memang sesungguhnya tujuan orang batak mendirikan Tugu marga-marga?
Tugu merupakan suatu hasil kebudayaan manusia yang mencerminkan karakter manusia itu sendiri. Bagaimana marga panjaitan berterimakasih kepada nenek moyangnya yang telah berjuang untuk membuat marga panjaitan seperti saat ini.
Tugu Marga Panjaitan ini juga sudah menjadi Tesis S2 Antropologi Universitas Negeri Medan Rohrita Panjaitan http://digilib.unimed.ac.id/UNIMED-Master-1042/1042
Begitu eksisnya Panjaitan pada saat ini bagaimana kita mewujudkan rasa terimakasih kita kepada nenek moyang kita Raja Panjaitan.
apa yang menjadi Latar belakang pendirian tugu pada kelompok-kelompok marga di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir yang merepresentasikan fungsi dan makna pendirian tugu marga-marga yang ada di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir selain itu menguraikan pengorganisasian dan pelaksanaan kasus pendirian tugu marga Panjaitan di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir dan menganalisa konsepsi pendirian tugu pada masyarakat Batak Toba.
Tugu Marga Panjaitan ini juga sudah menjadi Tesis S2 Antropologi Universitas Negeri Medan Rohrita Panjaitan http://digilib.unimed.ac.id/UNIMED-Master-1042/1042
Begitu eksisnya Panjaitan pada saat ini bagaimana kita mewujudkan rasa terimakasih kita kepada nenek moyang kita Raja Panjaitan.
apa yang menjadi Latar belakang pendirian tugu pada kelompok-kelompok marga di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir yang merepresentasikan fungsi dan makna pendirian tugu marga-marga yang ada di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir selain itu menguraikan pengorganisasian dan pelaksanaan kasus pendirian tugu marga Panjaitan di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir dan menganalisa konsepsi pendirian tugu pada masyarakat Batak Toba.
Wikipedia
Panjaitan (ejaan lama: Pandjaitan) adalah salah satu marga Batak. Beberapa tokoh bermarga Panjaitan:
Sabtu, 15 Oktober 2011
Apakah ada batas umur berapa lama kita bisa hidup?
23:1-20 =
Sara mati dan dikuburkan
(1) Sara hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara.
Apakah ada batas umur berapa lama kita bisa hidup?
Pertanyaan: Apakah ada batas umur berapa lama kita bisa hidup?
Jawaban: Banyak orang memahami Kejadian 6:3 sebagai membatasi umur manusia sepanjang 120 tahun. “Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja."” Namun demikian, Kejadian 11 mencatat beberapa orang yang hidup melampaui 120 tahun. Karena itu beberapa menafsirkan Kejadian 6:3 mengatakan bahwa, secara umum, orang tidak lagi akan hidup melampaui 120 tahun. Setelah banjir, Anda memperhatikan bahwa umur manusia menurun secara drastis (bandingkan Kejadian 5 dengan Kejadian 11) dan pada akhirnya menyusut sampai di bawah 120 (Kejadian 11:24). Sejak waktu itu sangat sedikit orang hidup melampaui 120 tahun. Jadi ada kemungkinan bahwa Kejadian 5:32 adalah prediksi Allah bahwa karena kejahatannya umat manusia tidak akan hidup selama ratusan tahun (sebagaimana dalam Kejadian pasal 5).
Namun demikian, penfasiran lainnya, yang kelihatannya lebih sesuai dengan konteks, adalah bahwa Kejadian 6:3 adalah catatan bahwa Allah menyatakan bahwa Banjir akan terjadi 120 tahun dari saat Dia menyatakannya. Berakhirnya hari-hari manusia adalah rujukan pada dihancurkannya umat manusia karena Banjir. Ada beberapa yang mempermasalahkan penafsiran ini karena dikatakan Allah memerintahkan Nuh untuk membangun bahtera ketika Nuh berumur 500 tahun dalam Kejadian 5:32 dan Nuh berumur 600 tahun ketika Banjir terjadi (Kejadian 7:6); hanya ada waktu 100 tahun, bukan 120 tahun. Namun demikian, kapan Allah menyatakan itu dalam Kejadian 6:3 tidak diberikan. Selanjutnya, Kejadian 5:32 bukanlah waktu Allah memerintahkan Nuh untuk membangun bahtera, namun adalah umur Nuh ketika dia menjadi ayah dari ketiga putranya. Adalah sangat mungkin bahwa Allah menentukan bahwa air bah akan terjadi dalam 120 tahun dan kemudian menunggu beberapa tahun sebelum memerintahkan Nuh untuk membangun bahtera. Apapun kasusnya, 100 tahun antara Kejadian 5:32 dan 7:6 sama sekali tidak bertolak belakang dengan 120 tahun yang disebutkan dalam Kejadian 6:3.
Beberapa ratus tahun setelah Air Bah, Musa mengatakan, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” (Mazmur 90:10). Baik Kejadian 6:3 ataupun Mazmur 90:10 bukanlah merupakan batas umur umat manusia. Kejadian 6:3 adalah prediksi mengenai jangka waktu untuk Air Bah. Mazmur 90:10 sekedar menggambarkan bahwa secara umum orang hidup 70-80 tahun (yang masih berlaku sekarang ini).
Sara mati dan dikuburkan
(1) Sara hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara.
Apakah ada batas umur berapa lama kita bisa hidup?
Pertanyaan: Apakah ada batas umur berapa lama kita bisa hidup?
Jawaban: Banyak orang memahami Kejadian 6:3 sebagai membatasi umur manusia sepanjang 120 tahun. “Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja."” Namun demikian, Kejadian 11 mencatat beberapa orang yang hidup melampaui 120 tahun. Karena itu beberapa menafsirkan Kejadian 6:3 mengatakan bahwa, secara umum, orang tidak lagi akan hidup melampaui 120 tahun. Setelah banjir, Anda memperhatikan bahwa umur manusia menurun secara drastis (bandingkan Kejadian 5 dengan Kejadian 11) dan pada akhirnya menyusut sampai di bawah 120 (Kejadian 11:24). Sejak waktu itu sangat sedikit orang hidup melampaui 120 tahun. Jadi ada kemungkinan bahwa Kejadian 5:32 adalah prediksi Allah bahwa karena kejahatannya umat manusia tidak akan hidup selama ratusan tahun (sebagaimana dalam Kejadian pasal 5).
Namun demikian, penfasiran lainnya, yang kelihatannya lebih sesuai dengan konteks, adalah bahwa Kejadian 6:3 adalah catatan bahwa Allah menyatakan bahwa Banjir akan terjadi 120 tahun dari saat Dia menyatakannya. Berakhirnya hari-hari manusia adalah rujukan pada dihancurkannya umat manusia karena Banjir. Ada beberapa yang mempermasalahkan penafsiran ini karena dikatakan Allah memerintahkan Nuh untuk membangun bahtera ketika Nuh berumur 500 tahun dalam Kejadian 5:32 dan Nuh berumur 600 tahun ketika Banjir terjadi (Kejadian 7:6); hanya ada waktu 100 tahun, bukan 120 tahun. Namun demikian, kapan Allah menyatakan itu dalam Kejadian 6:3 tidak diberikan. Selanjutnya, Kejadian 5:32 bukanlah waktu Allah memerintahkan Nuh untuk membangun bahtera, namun adalah umur Nuh ketika dia menjadi ayah dari ketiga putranya. Adalah sangat mungkin bahwa Allah menentukan bahwa air bah akan terjadi dalam 120 tahun dan kemudian menunggu beberapa tahun sebelum memerintahkan Nuh untuk membangun bahtera. Apapun kasusnya, 100 tahun antara Kejadian 5:32 dan 7:6 sama sekali tidak bertolak belakang dengan 120 tahun yang disebutkan dalam Kejadian 6:3.
Beberapa ratus tahun setelah Air Bah, Musa mengatakan, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” (Mazmur 90:10). Baik Kejadian 6:3 ataupun Mazmur 90:10 bukanlah merupakan batas umur umat manusia. Kejadian 6:3 adalah prediksi mengenai jangka waktu untuk Air Bah. Mazmur 90:10 sekedar menggambarkan bahwa secara umum orang hidup 70-80 tahun (yang masih berlaku sekarang ini).
Langganan:
Postingan (Atom)




